Ketika Ayah dan Ibu Berpesan
Karya : Rina Apriani
Di sela-sela angin, ayam berkokok manja ketika sang mentari mulai menghampiri. Ya, waktu telah pagi kembali. Ku dengar langkah kaki menuju kamarku. Ku dengar suara itu tepat pada kedua telingaku. Dia adalah ayahku, sosok seorang laki-laki yang tangguh tanpa mengeluh, yang telah menjadi tulang punggung keluarga. Hampir setiap hari, ayahku selalu membangunkanku dan mengingatkanku untuk menjalankan kewajibanku sebagai seorang muslim. Namun, ketika aku beranjak dewasa, pahit kehidupan telah menimpaku. Aku harus rela, aku harus bisa bertahan walau kini hidupku hanya dengan seorang ibu. Saat itu, Tuhan lebih cepat memanggil ayahku. Butiran air mata, terdampar diatas pipi. Bahkan kedua kaki ini pun tak kuasa melangkah bahkan menenangkan air mata ini.
Sampai suatu ketika, ibuku berkata : " Nak, jadilah wanita yang kuat, sekuat ayahmu dan buatlah ayahmu bangga denganmu. "
Aku pun tak tahu, harus apa dan bagaimana. Namun hati kecil ini berbisik, bahwa aku harus mampu mewujudkan kata-kata ibuku. Karena aku tahu, aku tak akan mampu mewujudkan cita-cita ayahku, yang aku sendiri pun tak tahu.
Waktu bergulir kian kini, setelah sekian lama hidupku tanpa seorang ayah, hanya ibu lah yang mampu membuatku bertahan hidup. Dulu, ketika aku masih kecil, ayahku pernah berkata, jika " Hidup tanpa ilmu akan terasa semu, tak ada harganya, bahkan akan tertinggal pada zamannya.
Lalu aku pun berbicara kepada ibu ku : " Bu, apakah aku bisa berhasil dengan kondisiku yang malas ini ? "
Ibuku pun menjawab : " Malas itu sebuah sifat manusiawi yang menjelaskan bahwa dirinya mulai lelah. Dan ketika rasa lelah itu pergi, dirinya akan kembali semangat untuk menyelesaikan niatnya itu."
Rintik hujan, menegaskan suasana yang penuh kedamaian. Aku berfikir, jika ayah dan ibuku mampu membahagiakanku, mengapa aku tidak ? Aku ini juga masih keturunannya dan pastinya tidak jauh berbeda dengan keduanya.
Setelah aku melewati masa-masa SD, SMP dan akupun sekarang ini masih duduk di bangku SMA. Umurku memang sudah cukup dewasa, namun rasanya aku masih seperti anak bocah. Tetapi ada satu alasan untuk menjadikanku lebih dewasa, penuh tanggung jawab dan tentunya masih ada cita-cita yang belum aku wujudkan dan masih dalam proses.
Ayah, Ibu, engkau adalah satu-satunya alasan hidupku. Perjuangan kalian yang telah mengajarkan arti kehidupan. Rasanya, aku ingin cepat-cepat menjadi orang yang berhasil, yang bisa mewujudkan harapan kalian untuk menjadi wanita yang kuat, sekuat ayah, dan mengartikan kata-kata ayah dulu.
Ayah, semoga kau disana bisa merasakan, jikalau anakmu ini telah berhasil. Dan untukmu Ibu, semoga sehat selalu, bisa menyaksikan keberhasilan dan menemaniku sampai hari tuamu.





